Mengukur Kadar Nasionalisme.

Seorang teman bertanya seberapa besar rasa nasionalisme padaku. Aku memang tak langsung menjawabnya, alih-alih membuka mulut kukeluarkan telepon selularku dari kantong celana. Lalu kutunjukan padanya.

Temanku heran dan mengamati ponsel itu dalam-dalam. Ia memandangiku, “Apa? Lo mau ngasih tahu apa?!”

“Lihat dulu..!”

Lama ia perhatikan.

“Men, lo pake Bahasa Indonesia ya di hape lo?”

“Iya. Salah? Gak kan?”

“Ya emang enggak, tapi kalo gue ribet aja bacanya. Udah keseringan pake Bahasa Inggris,” katanya.

“Tapi bukannya gue gak ngerti Bahasa Inggris sama sekali.”

Dahinya mengernyit, “Lha, terus apa? Emang Bahasa Indonesia lo udah bener?”

“Nah, itu dia! Karena gak bener itulah gue sebenernya malu. Jadi kalo orang tanya tentang rasa nasionalisme ke gue, yang gue jawab pertama adalah penggunaan Bahasa Indonesia di setiap kesempatan. Terserah orang mau bilang gue sok atau apa. Cuma itu hal yang pertama gue bisa lakuin. Walau gue juga gak bagus-bagus amat dalam berbahasa yang baik dan benar.”

“Terus hubungannya sama rasa nasionalisme bela negara apa? Bukannya hampir sama?”

“Mmm..itu bukannya patriotisme yah?”

“Okelah.. Tapi contoh lainnya?” tanya temanku.

“Wah..kalo yang lo maksud tentang prestasi unt–“

Ia memotongku, “Itu juga bukan?”

“Ya itu, gue gak mampu sejauh itu.”

“Tapi ya, kalo pasang-pasang atribut–“

“Sori gue potong. Itu dia kesalahan dari kita. Kita kadang mikir untuk mengukur rasa nasionalisme itu harus pasang atribut kenegaraan, menang olimpiade atau sebagainya. Padahal menurut gue gak mesti gitu-gitu amat. Lo bisa hafal dan memaknai Pancasila juga udah sama. Cuma kebanyakan kita udah terlalu males buat itu semua.

Makannya gue cuma bisa mulai dari hal terkecil seperti menerapkan Bahasa Indonesia disegala kesempatan semampu gue. Ya kalau lupa, dimaklum aja..” kataku sambil tertawa.

“Intinya?”

“Bagi gue banyak cara mengukur nasionalisme. Gak mesti yang aneh-aneh. Bodo amat gue dibilang apa.. Mau sok kek, mau belagu kek… Toh orang lain juga tahu mana yang bener.”

Temanku tertawa tertahan.

“Kenapa lo ketawa? Heh..jawab! Apaan kagak?”

“Pantesan bahasa di Facebook lo Bahasa Indonesia mulu, gue pikir lo rada bego dan gak nger–“

“Akh..sial lo!!”

Kami pun tertawa.

***

One thought on “Mengukur Kadar Nasionalisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *