Jangan Abaikan Firasat..

Rasanya sepulang kerja tadi aku ingin belanja. Tunggu, ini beda. Belanja bukan untukku. Tapi untuk keponakanku yang sekarang sudah tinggal di Cileungsi.

Adalah Iko dan Nabiel, 2 keponakanku tersayang. Yang sekarang hanya bisa dihitung 2-3 kali sebulan untuk kami bertemu. Maka benar saja, setibanya di minimarket dekat rumah, aku kalap belanja. Belanja makanan dan minuman kesukaan mereka. Mulai dari susu kotak, biskuit hingga es krim. Tipikal jajanan anak-anak seusianya.

Sempat terlintas juga untuk tidak belanja hari ini, karena kalo mereka berkunjung pun harusnya masih lama, yaitu weekend. Tapi tak apalah..aku bisa menyimpannya hingga mereka datang. Aku rindu mereka. Rindu sekali…

Sesampainya di rumah, Mamahku yang sedang menonton televisi membalas salamku. Dan di samping mamahku, ternyata ada Iko yang terlelap tidur. “Pengen nunggu, Om, katanya..” jelas Mamah.

“Lho emangnya si Iko besok ga sekolah?” cuma pertanyaan biasa, tapi rasa hati kok makin aneh.

“Gini Men, tadinya tuh Mamah cuma mau dianterin sama Ayahnya. Eh si Nabiel pengen ikut nginep, lalu kakaknya juga pengen ikut nganter. Jadi dua-duanya pada ngikut nganter..” kata Mamahku.

“Terus…?”

“Harusnya si Iko pulang lagi bareng Ayahnya, tapi tadi di jalan kita kecelakaan..”

Hatiku mencelos. Mataku berlinang. “Apanya yang luka? Terus Nabiel mana?”

“Nabiel di kamar tidur sama Engking (baca: kakek), ga apa-apa kok. Cuma Mamah, Mas Gerry sama si Iko aja yang lecet. Tapi Mamah agak pegel nih tangannya, luka dalam.” lanjut Mamah bercerita. “Tapi tadi langsung ke dokter semua.”

Jadi ceritanya Mamahku yang ingin diantar oleh kakak iparku setelah berkunjung ke Cileungsi mengalami kecelakaan di jalan. Ada kendaraan yang menyalip dan kakak iparku berusaha menghindar, maka mereka semua terjatuh dan sempat terseret beberapa meter.

Aku baru sadar, seharian tadi firasatku tak enak. Sungguh tak enak. Bahkan ketika pulang kerja tadi rasa belanja dadakan muncul begitu saja. Rasanya ingin menyenangkan kedua keponakanku. Dua acara kumpul bersama teman-teman dunia maya pun aku batalkan. Karena berkali-kali firasatku mengatakan hal yang tidak bagus.

Apakah ini sebenarnya pertanda?

Memang ada baiknya jangan mengabaikan firasat. Jika ada sesuatu yang tak mengenakan hati, ada baiknya kita mengecek kondisi keluarga atau orang tersayang yang ketika itu kita bayangkan. Ahh..itu sih, menurutku….

12 thoughts on “Jangan Abaikan Firasat..

  1. Katanya orang tua itu lebih kuat firasatnya, Tik. Etapi kakakku aja pernah gemeteran pas aku ditabrak motor. Dia bilang firasatnya juga ga enak seharian. ๐Ÿ˜

  2. Eh koq ada aku?
    E bukaN ding, namanya sama ternyata, dikeluarga Umen ada yg namanya Gerry juga ๐Ÿ˜›
    Duh sedih bacanya, turut prihatin… Cepat sembuh untuk semuanya ya men ๐Ÿ™

  3. Makasih Mas Gerry, eh… :p

    Iya, sudah baikan kok. Tapi ya aku masih khawatir kalo-kalo ada luka dalam. Semoga ga ada apa-apa deh. Amien ๐Ÿ™‚

  4. katanya setiap manusia itu dianugerahi indera ke6 tinggal si manusia nya terbiasa untuk memperhatikan apa ndak… kalo terbiasa ya jadinya peka… kalo ndak ya jadinya cuek…

    cepet sembuh buat semuanya…

    n salam kenal ๐Ÿ™‚ senang bisa lewat…

  5. Saya jarang punya firasat pada hal2 mendadak keknya. Kalo sampai ada perasaan gak enak, musti ada pemicunya dulu. Misal nelpon seseorang berulang2 gak diangkat atau curiga bahwa bakal ketemu mantan di tempat yang mau dituju… ๐Ÿ™„

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *