North Sumatera Trip (part 2): Tomok, Aek Natonang dan Mi Gomak

Jika sebelumnya saya lebih banyak membahas bagaimana cara menuju Danau Toba dan Pulau Samosir, dalam tulisan ini akan saya bahas tempat-tempat yang menarik yang bisa didatangi di Samosir. Apa sajakah tempat itu? Mari dibaca.. ^^

Setelah menempuh perjalanan dari bandara Kualanamu, Medan, menuju Parapat hampir 6 jam, lalu dilanjut perjalanan dengan kapal menuju Samosir selama 45 menit, akhirnya saya tiba di Samosir. Pada hari berikutnya saya beserta teman saya, Debby, yang memang tinggal di Samosir memiliki agenda untuk mengunjungi beberapa tempat..

Tomok

Danau Toba dan Pulau Samosir.

Tomok

Merupakan salah satu desa di Samosir. Untuk dapat menuju ke tempat tersebut biasanya akan ada bus kecil yang berkeliling pulau sebagai angkutan umum, atau pengunjung dapat menyewa sepeda motor yang banyak disewakan oleh penginapan-penginapan di Samosir.

Di Tomok kita dapat mengunjungi makam tua dari Raja Sidabutar, yakni orang pertama yang menginjakkan kakinya di Tomok. Letaknya tak begitu jauh dari Pelabuhan Tomok. Sebelum mencapai lokasi Anda akan menemui pasar yang menjual buah, sayuran, kebutuhan pokok hingga toko-toko cinderamata khas Batak.

Makam Raja Sidabutar

Makam Raja Sidabutar (kiri atas), pertunjukan Sigale-gale (kiri bawah), kalender Batak (tengah), alat musik Hasapi (kanan tengah) & kegiatan pasar di Tomok (kanan atas dan kanan bawah)

Di salah satu jalan yang menyelinap di antara pertokoan cinderamata, sesekali akan terdengar musik khas Batak. Jangan ragu untuk mendatangi, karena Anda akan melihat pertunjukkan patung kayu Sigale-gale. Sigale-gale sendiri konon merupakan perwujudan anak raja yang tewas dalam berperang. Si raja sakit saat mengetahui anaknya telah tewas. Namun seorang penasehat menyarankan untuk  membuat patung kayu dan mencoba “mendatangkan” arwah anak raja masuk ke dalam patung kayu tersebut. Kesehatan sang raja pulih setelah melihat patung kayu tersebut seakan benar-benar menyerupai almarhum anaknya. Kini beberapa patung Sigale-gale dapat ditemui di beberapa tempat di Samosir.

Aek Natonang
Yang unik dari Pulau Samosir ini, kita bisa melihat “danau di atas danau” (baca: di atas Danau Toba). Ada 2 danau di Pulau Samosir, yakni Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Tapi yang menjadi perhatian saya sendiri adalah Aek Natonang. Sebuah waduk yang terletak di Desa Tanjungan, Kecamatan Simanindo. Perjalanan menuju lokasi dapat dilalui menggunakan sepeda motor dan mobil.

Arboretum Aek Natona

Danau di atas danau, begitulah orang sekitar menyebut waduk Aek Natonang ini.

Diceritakan bahwa danau ini awalnya dibuat untuk mengairi desa-desa di sekitarnya. Memiliki peranan yang sangat penting bagi banyak warga, Aek Natonang kini seperti kurang mendapat perhatian. Akses jalan yang masih kurang bagus juga menjadi kendala bagi wisatawan untuk berkunjung ke danau ini. Padahal Aek Natonang merupakan salah satu potensi wisata yang masuk dalam kawasan arboretum (kebun raya) Samosir.

Selama perjalanan menuju Aek Natonang, kita akan melihat bukit-bukit indah yang dipenuhi hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing dan babi. Pohon pinus yang lebat juga menyuguhkan udara segar saat dalam perjalanan tersebut.

Pemandangan Samosir

Tak hanya menawarkan resor di pinggir Danau Toba saja, di Samosir juga dapat ditemui hutan pinus dan pemandangan lain yang menakjubkan.

Bagaimana dengan kulinernya?
Mi Gomak, menurut saya rasa kuahnya mirip dengan lontong sayur yang biasa saya temui di Jakarta. Tetapi kuahnya sedikit lebih ringan. Tak ada salahnya jika Anda mencoba mi yang disajikan dengan cara di-“gomak” (digenggam menggunakan tangan) jika berkunjung ke Danau Toba dan Samosir, karena makanan ini sangat khas bagi masyarakat Batak Toba. Dan jangan lupa juga untuk mencicipi kopi Medan yang enak. Slurrrrps! ^^

Kuliner Samosir

Kopi Medan plus susu dan Mi Gomak, siap menemani Anda sepanjang berpetualang mengelilingi Samosir.

Tips:
– Bawa air mineral selama perjalanan, kondisi yang kadang terik akan dengan seketika membuat tubuh kekurangan cairan.
– Kenakan pakaian yang mudah menyerap keringat, bawa juga pakaian hangat karena kondisi di bukit Samosir bisa tiba-tiba dingin.

Estimasi biaya:
– Sewa sepeda motor: sekitar Rp 80.000,- per hari per unit.
– Melihat Sigale-gale: Rp 5.000,- per orang.
– Donasi di makam Raja Sidabutar: seikhlasnya..hehe 😉

Masih ada lagi cerita saya mengenai North Sumatera Trip di Kota Medan. Bagi yang ingin membaca bagian sebelumnya silahkan klik di sini, untuk part terakhir baca di sini.

Thanks to:
@SantikaOnline
@indrayust
– Debby Simarmata

11 thoughts on “North Sumatera Trip (part 2): Tomok, Aek Natonang dan Mi Gomak

  1. Pingback: North Sumatera Trip (part 1): Danau Toba & Pulau Samosir | Blognya Umen

    • Have just phoned papa smurf to tell him about Anne Murray. Listened to it mylesf on the link and shed a tear(ok was greetin for wee while). Brought back memories of something some time in the past. No idea what:) All sounds great fun and you’re right, no way would I be sleeping there!! The resemblance to an orangutan is startling, you are like a ginger David Bellamy. Mich you look great as always and am sending you a big hug. Still enjoying the job although some of the kids would give the Tarbets fae Beechy nightmares. Holding my own, I am fae Charleston ye ken.Love you both see you in the next round of photos.xxxxxxxxxxxxxxxxxx

  2. Pingback: North Sumatera Trip (part 3): Keliling Medan Sambil Makan-Makan! | Blognya Umen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *