North Sumatera Trip (part 3): Keliling Medan Sambil Makan-Makan!

Taksi lokal yang membawa saya menuju Medan dari Parapat – Danau Toba tiba di kota saat siang hari. Namun karena harus mengantar penumpang lain yang jaraknya cukup berjauhan dari Hotel Santika tempat saya menginap, saya baru bisa check-in menjelang pukul 4 sore. Ada rasa lelah yang membebani tubuh, tapi semangat untuk berkeliling kota Medan sambil makan-makan meruntuhkan kelelahan itu.

WisataMedan

Kediaman Tjong A Fie, Dinas Kebudayaan & Pariwisata, Gedung Juang '45 dan Masjid Raya Medan (kiri atas searah jarum jam)

Saya membuka kertas berisi daftar tempat-tempat menarik di kota Medan sambil merebahkan diri di atas kasur empuk super nyaman sore itu. Saya juga sempat nge-tweet untuk menanyakan tempat makan enak yang ada di Medan. Beberapa teman merekomendasikan banyak tempat wisata dan tempat makan. Lalu saya berpikir, “Apakah semua ini bisa saya kunjungi hanya dalam waktu 2 malam 1 hari? Karena lusa pagi-pagi sekali saya sudah harus pulang kembali ke Jakarta..”

Mari makan~!
Waktu terasa begitu cepat berlalu, rasa lelah setelah perjalanan sekitar 6 jam ditambah 2 jam berkeliling mengantar penumpang lain belum juga hilang, tapi waktu malam langsung saja hadir tiba-tiba (okay..ini lebay). Saya yang sudah mengontak seorang teman sebelumnya untuk minta diantar berkeliling wisata kuliner Medan juga sudah rapi menunggu sambil menonton TV di kamar hotel. Sayangnya, setelah kami bertemu malam itu kami hanya sempat berbincang sejenak di restoran Tip Top dan berhasil mencicipi 3 menu. Saya memilih nasi goreng, bitterballen, dan es krim berbentuk roti (ah..saya lupa namanya). Harus diakui, bagi saya es krim di sini enak. Begitu juga dengan bitterballen-nya. Saya merekomendasikan keduanya. Soal harga memang sudah sesuai, ketimbang restoran sejenis di kota Malang.

Istana Maimun
Berdasarkan cerita dan saran dari teman-teman, saya mencoba untuk mengunjungi Istana Maimun (Istana Maimoon) terlebih dahulu keesokan harinya. Jaraknya memang lumayan cukup jauh dari hotel tempat saya menginap, tapi tidak ada salahnya jika saya berjalan kaki ke tempat ini. Kelebihannya adalah saya bisa melihat hiruk pikuk kota Medan di siang hari. Melihat bentor (becak bermotor–yang entah dari mana asal huruf “n”-nya) berlalu lalang, atau sekedar melihat penjual jajanan yang berjualan di tiap sudut jalan.
IstanaMaimun
Menurut sejarah, Istana Maimun dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888. Istana yang memiliki luas sebesar 2.772 meter persegi ini memiliki sekitar 30 ruangan. Desain bangunan merupakan paduan warisan kebudayaan Melayu yang kental dengan unsur Islam, Spanyol, India dan Italia. Istana Maimun buka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore hari, namun pada hari Jumat buka hanya hingga pukul 12 siang. Pada jam-jam tertentu pengunjung juga bisa menikmati pertunjukan musik tradisional Melayu di sini.

Selain itu, jika berkunjung ke Istana Maimun, cobalah mampir ke bangunan di sebalah istana. Di dalam bangunan tersebut terdapat Meriam Puntung yang konon merupakan penjelmaan adik Putri Hijau yang cantik. Ia berubah menjadi meriam sebagai bentuk perlindungan terhadap istana yang diserang oleh Raja Aceh yang ditolak pinangannya oleh Putri Hijau. Meriam tersebut pecah menjadi 2 bagian akibat panas yang ditimbulkan setelah berkali-kali melakukan tembakan. Bagian yang satunya lagi terlempar di Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Tanah Karo.
MeriamPuntung

Menara Tirtanadi
Salah satu bangunan yang membuat saya penasaran ingin kunjungi adalah Menara Tirtanadi. Saya pernah melihat foto klasik menara ini di sebuah situs, dan mungkin akan sangat menyenangkan jika melihat kondisinya langsung pada waktu sekarang.
MenaraLeideng
Menara Tirtanadi didirikan pada tahun 1908 oleh pemerintah Belanda. Menara ini memiliki fungsi sebagai tempat penampungan air bagi masyarakat Medan saat itu. Pembangunannya tidak lepas dari campur tangan perusahaan air milik pemerintah kolonial Belanda, NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Beresih, yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Dipercaya, asal usul nama “air ledeng” adalah dari nama “Leiding” tersebut. Hmmm…menarik juga.

Untuk mengakses lokasi menara setinggi 42 meter ini, saya berjalan kaki dari lokasi Masjid Raya Medan. Lelah? Tentu saja. Tapi jangan khawatir, kita juga bisa mengunjungi menara di Jl. Sisingamangaraja 1 ini menggunakan bentor. Dalam perjalanan kita juga bisa mampir sebentar ke Toko Bolu Meranti yang terkenal ini. Sayangnya, Menara Tirtanadi bukanlah tujuan wisata yang populer dan terbuka bagi masyarakat umum. Untuk masuk ke sana prosesnya cukup sulit dan berbelit. Saya diharuskan melapor ke kantor di sana, padahal hanya untuk sekedar berfoto. Alhasil saya memutuskan tidak masuk dan hanya mengagumi menara ini dari sisi jalan raya saja. Sungguh disayangkan, padahal menara ini punya kisah sejarah yang unik menurut saya pribadi.

***

Seandainya waktu berkeliling Medan saya bisa lebih lama, mungkin saya bisa menikmati keindahannya lebih puas lagi. Tak hanya Istana Maimun dan Menara Tirtanadi, dalam satu hari saya juga berhasil mengunjungi kediaman Tjong A Fie (tokoh yang juga berjasa dalam pembangunan kota Medan yang saat itu dikenal dengan nama Deli Tua), Masjid Raya Medan, dan Gedung Juang ’45. Oh iya, di depan Masjid Raya banyak penjual makanan lho… Yang membuat saya penasaran adalah Kolak Durian-nya. Cukup segar untuk menghilangkan rasa dahaga saat siang hari. Hehe..

Malamnya, saya masih punya kesempatan untuk mencicipi kuliner Medan lainnya. Tak jauh dari hotel, saya berjalan kaki menuju Merdeka Walk, kawasan kuliner yang menyajikan makanan bervariatif. Adalah restoran Nelayan yang menjadi pilihan saya. Restoran ini terkenal dengan dimsum serta pancake durian yang enak. Saya juga harus setuju dengan hal ini.
KulinerMedan
Perut kenyang, saya pun kembali ke hotel. Kembali merasakan tidur yang nyaman dan suasana yang menenangkan. Ditemani lampu-lampu kota dari luar jendela saya memejamkan mata. Siap bangun lalu menikmati sarapan lezat sebelum kembali ke Jakarta.

SantikaHotel
Benar-benar liburan yang menyenangkan. Jika ada kesempatan untuk ke Medan lagi, mungkin saya harus mengambil cuti lebih lama agar kepuasan berkeliling kota Medan melebihi apa yang saya idamkan.

Terima kasih, Medan! 🙂

Alamat penting:
Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention Medan
Jalan Kapten Maulana Lubis no. 7, Medan 20112
North Sumatra – Indonesia
Phone : (62-61) 451 1999 Fax: (62-61) 452 1999
Email: medanpremiere@santika.com

Istana Maimun
Jalan Brigjen Katamso, Medan.

Menara Tirtanadi
Jalan Sisingamangaraja No. 1 (perempatan Jalan Sisingamangaraja-Jalan Pandu-Jalan Cirebon-Jalan Hj. Ani Idrus)

Masjid Raya Medan
Sisi timur menghadap ke Jalan Sisingamangaraja, sedangkan sisi utaranya menghadap ke Jalan Masjid Raya.

Kediaman Tjong A Fie
Jalan Ahmad Yani, No. 97-99, Medan

Sudah baca part 1 dan part 2? Cek di sini dan di sini.

Thanks to:
@santikaonline
@indrayust
@poetra

One thought on “North Sumatera Trip (part 3): Keliling Medan Sambil Makan-Makan!

  1. Pingback: North Sumatera Trip (part 2): Tomok, Aek Natonang dan Mi Gomak | Blognya Umen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *