[Review] Pendekar Tongkat Emas: Waktunya Telah Tiba

“Waktunya Telah Tiba…”
Sebuah kalimat pamungkas yang makin mengiang-ngiang di telinga beberapa hari ini. Racun yang mengental di otak dan bersarang meluas menugaskan ingatan untuk tidak melupakan sebuah hal yang bagi saya akan sangat menarik. Sebuah epik di penghujung tahun..

18 Januari 2014, waktunya (pun) telah tiba, bergegaslah saya menuju sebuah bioskop di daerah Senayan..
Oke..oke, skip! Jadi begini…film yang saya tunggu di akhir tahun pun akhirnya diputar di bioskop tanah air. Berbulan-bulan sebelumnya saya dibuat penasaran oleh poster teaser dari film Pendekar Tongkat Emas, sebuah film produksi Miles Films dan KG Studio.
PTEa

Adalah Mira Lesmana, yang kebetulan saya fans dari karya-karyanya yang brilian, yang membuat saya rela menunggu setiap perkembangan dari proses syuting film ini. Diperkuat dengan behind the scene-nya yang dikemas dengan apik, rasanya sayang sekali jika film bertema silat ini dilewatkan.

Menceritakan kehidupan para pendekar di sebuah perguruan silat, di mana kesetiaan dan kepercayaan harus berhadapan melawan ambisi balas dendam dan kebencian demi memperebutkan sebuah kehormatan. Tak hanya itu, Pendekar Tongkat Emas juga menyuguhkan cerita cinta dan pengorbanan di antara mereka.

nontonPTE
Waktunya telah tiba, untuk kita merasa bangga Indonesia punya surga. Pemandangan yang disajikan di film sungguh luar biasa. Nampaknya Mira dan kru selalu punya cara menemukan lokasi-lokasi syuting baru yang indah dan kaya. Terbayang bagaimana proses syuting yang tentunya akan menjadi sangat sulit melihat medannya yang memang cukup berat. Sang sutradara, Ifa Isfansyah, menurut saya pandai melihat sisi unik lanskap yang cocok dengan jalan cerita. Sebuah desa, yang katakanlah entah di mana, namun tetap bisa kita kenali unsur Indonesia-nya di beberapa adegan.

Unsur lain yang menarik perhatian saya adalah kehadiran kain-kain lokal khas Sumba pada setting dan kostum para pemerannya. Warna-warna sederhana, tapi memiliki pattern yang indah dan rumit.

Saya jadi berpikir, apakah Sumba yang menjadi lokasi syuting film ini akan “naik daun” seperti Belitung yang sukses terkenal setelah menjadi lokasi syuting Laskar Pelangi? Saya harap begitu… Sayang jika setting dari film ini yang memang dibangun dari nol dibongkar begitu saja. Akan jadi menarik jika bangunan di film ini dijadikan tempat tur bagi para wisatawan.

Oh lupakanlah perihal ini bukan silat “yang” Indonesia, karena penonton akan diajak berimajinasi mengenai lokasi dan waktu kejadian di film Pendekar Tongkat Emas itu sendiri. Tak perlu mendebatkan hal yang seharusnya dapat dinikmati dengan asik, kan? 😆

pte1

Waktunya telah tiba, untuk penonton benar-benar merasakan ketegangan dan keseruan aksi laga yang disiapkan dengan matang. Koreografi untuk adegan aksi laga ini mengingatkan saya dengan adegan aksi laga di film-film silat ala Tiongkok, dan mereka memang mendatangkan langsung seorang action director dari luar negeri. Rapi, tanpa efek-efek yang berlebihan khas sinetron silat yang biasa kita lihat selama ini.

pte2

Waktunya telah tiba, bagi setiap penonton menikmati sajian sinematografi kualitas tinggi. Saya gak akan bahas kamera apa yang dipakai, karena saya gak ngerti dan tahu untuk itu. Tapi saya sebagai penonton melihat hasil sinematografi yang tegas dan jelas, membuat saya berdecak kagum tanpa henti hampir sepanjang film.

Dari segi permainan peran, Nicolas menurut saya sama “dinginnya” seperti perannya ketika ia jadi Rangga di AADC. Untuk Eva Celia, beberapa teman saya melihat dia terkesan “klemar-klemer” dalam karakternya, padahal menurut saya memang begitulah seharusnya peran yang dimainkannya. Cukup. Tak perlu ditambahkan atau dikurangkan. Lalu ada Reza Rahadian dan Tara Basro, oh…tolonglah, mereka sukses sekali berduet di sini. Kuat dan jadi yang sulit tertandingi! Pemilihan aktor dan aktris yang pas.

pte3

Well…waktunya telah tiba, untuk berhenti buang waktu dan segera bergegas ke bioskop terdekat menonton film Pendekar Tongkat Emas! Tonton di bioskop sebelum film ini turun layar karena atmosfernya akan sangat berbeda jika kita menontonnya di TV atau DVD (itu pun masih lama kaaaaan?).



Pendekar Tongkat Emas
Director: Ifa Isfansyah
Producer: Mira Lesmana
Co-Producer: Riri Riza
Written: Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah & Seno Gumira Ajidarma
Cast: Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Eva Celia, Tara Basro, Landung Simatupang
Durasi: 112 menit

OST. Pendekar Tongkat Emas “Fly My Eagle” by Anggun di http://itun.es/id/itCv4

foto-foto oleh Miles Films | Twitter @PendekarTktEmas

4 thoughts on “[Review] Pendekar Tongkat Emas: Waktunya Telah Tiba

  1. Suka banget ama kostum yang digunakan para pemain di sini. terutama yang dikenakan Tara Basro. Sumpah itu kain tenun cakep abis! Setting bagus, A-list actors/actresses, dan visual yang tertata sungguh manjain mata. Jadi makin amazed dengan betapa kayanya Indonesia.

    • Aku sempat pesimis lho kenapa mereka ambil setting di sana, sumpah…kayak digaplok pas nonton langsung. Soalnya waktu tau mreka akan syuting film ini aku kira akan berlatar tanah Sriwijaya atau kerajaan di Jawa gitu. Tapi aku salah, mereka milih di Sumba yang ternyata ‘gokil’ abis. Walaupun ga disebutin Sumba-nya, tapi inilah yang jadi menarik. Kitajadi mainin imajinasi sendiri-sendiri. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *