#AkuBeaCukai: Pengalaman Langka Berkunjung Ke Cikarang Dry Port

“Lokasinya di Cikarang. Semacam ‘pelabuhan’ tapi kering. Bukan di pinggir laut. Bingung gak dengarnya?” Itu kalimat pertama yang saya dengar waktu dapat ajakan mengunjungi Cikarang Dry Port. Ya, saya bingung.

Masih gak ada bayangan tentang apa itu Cikarang Dry Port, juga fungsi dan seperti apa kondisinya di sana. Apakah semacam pelabuhan? Atau seperti gudang? Atau mungkin terminal bus? Bagi saya, ini semua benar-benar asing di telinga.

Aku Bea Cukai 1

Hingga akhirnya pagi itu saya bertemu dengan Ibu Ardhani Naryasti dan teman-teman dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Mereka dengan senang hati menjelaskan tentang rencana perjalanan kami ke Cikarang Dry Port.

Aku Bea Cukai 2

Apa itu Cikarang Dry Port?
Cikarang Dry Port merupakan “perpanjangan tangan” dari Pelabuhan Tanjung Priok. Di mana segala pelayanan pabean dapat terkoneksi dengan pelabuhan-pelabuhan lain di seluruh dunia. Cikarang Dry Port jadi solusi bagi pengusaha untuk melakukan kegiatan bongkar muat barang sampai barang tersebut keluar (dwelling time) yang selama ini hanya difokuskan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Lokasinya sendiri berada di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Waktu tempuh dari Jakarta kurang lebih 1 jam perjalanan. Terbilang dekat jika diakses antara Tanjung Priok ke Cikarang.

Aku Bea Cukai 3

Proses apa saja yang terjadi di Cikarang Dry Port?
Agar waktu tunggu barang impor di Pelabuhan Tanjung Priok tidak padat, proses pelabelan dan proses pemeriksaan barang dilakukan secara terpisah. Kehadiran Cikarang Dry Port membantu proses tersebut.

Sebelum peti kemas yang masuk ke Cikarang Dry Port dibuka untuk diperiksa, petugas Bea dan Cukai akan menyesuaikan data dengan label yang tertera. Prosesnya termasuk mengambil gambar petugas dengan sebagian pintu peti kemas yang terbuka.

Apabila sudah sesuai, maka pembongkaran akan dilakukan oleh vendor yang ditunjuk langsung oleh klien atau importir di bawah pengawasan Bea dan Cukai. Nah, jadi bukan petugas Bea dan Cukai yang bongkar lho.. Hal itu untuk menghindari dugaan barang hilang oleh petugas Bea dan Cukai. Jadi jangan suka suudzon dulu nih kalau nemu kasus seperti itu. Hehe..

Barang dicek hingga ke ujung dalam peti kemas. Tumpukkan barang dihitung dan disesuaikan dengan dokumen yang dikeluarkan. Belum berhenti sampai di situ, masih ada proses pengambilan sampel, yakni dengan mengeluarkan 10%-20% dari total barang. Kardus barang dibuka, dilihat isinya dan juga harus melewati mesin x-ray scanner. Fiuhhhh…panjang dan melelahkan ya prosesnya!

Aku Bea Cukai 4

Pelabuhan kering ini melayani aktivitas ekspor dan impor mencakup pendistribusian barang ke daerah di pulau Jawa Contoh ini terlihat dari hadirnya jalur kereta yang menghubungkan Tanjung Priok, Cikarang Dry Port dan lokasi lainnya di daerah pulau Jawa. Dengan luas area lebih dari 200 hektar, pada bagian belakang tempat ini bisa dilihat jalur kereta yang dimaksud.

Dengan pelayanan terpadu satu atap, proses dokumentasi dan pemeriksaan terkait Bea Cukai, Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan diselesaikan di sini. Dengan teknologi modern, petugas dapat mengontrol langsung arus peti kemas yang berjalan dari Tanjung Priok ke Cikarang Dry Port melalui e-seal yang sudah dilengkapi dengan GPS, GPRS, dan RFID. Semua benar-benar terlihat efisien.

Aku Bea Cukai 5

Saya bersyukur sekali bisa dapat kesempatan langka seperti ini. Banyak ilmu baru yang saya tahu. Semoga akan ada kesempatan untuk saya bisa melihat proses kepabean lainnya.

Aku Bea Cukai 6

Untuk yang butuh informasi dan punya pertanyaan seputar Bea dan Cukai, jangan lupa terkoneksi dengan akun media sosialnya di Twitter @beacukairi @BravoBeaCukai dan Instagram @beacukairi, bisa juga berkunjung ke website www.beacukai.go.id.

2 thoughts on “#AkuBeaCukai: Pengalaman Langka Berkunjung Ke Cikarang Dry Port

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *