Mengapa Kita Harus Lari Ke Pantai?

Ialah Sam, gadis riang gemar berselancar yang tinggal di Rote, Nusa Tenggara Timur. Bersama ibunya, ia akan melakukan perjalanan darat dari Jakarta menuju Pantai Plengkung (G-Land) dan bertemu surfer idolanya. Dalam rencana perjalanan itu, turut serta Happy, sepupu Sam. Drama dan kejadian lucu khas anak-anak pun mulai bermunculan sepanjang perjalanan.

Tak berjudul

Begitulah gambaran dari film anak-anak terbaru dari Miles Films (yang kebetulan adalah rumah produksi favorit saya) berjudul Kulari Ke Pantai. Sejak kehadiran Petualangan Sherina (2000), saya sudah jatuh hati pada Miles Films. Film anak-anak yang diproduksi mereka dapat membius saya untuk masuk ke dalam dunia anak yang sesungguhnya. Misalnya saja ketika kehadiran Untuk Rena (2006), dan puncaknya adalah saat Laskar Pelangi (2008) yang sukses membuat jutaan pasang mata basah dan hati mengharu biru.

Walau bisa dibilang hanya Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi film untuk anak-anak produksi mereka yang melegenda, bagi saya sendiri Untuk Rena patut mendapat tempat istimewa di hati saya.

Ada lagi Sokola Rimba (2013), berfokus mengenai kegigihan dan problema menjadi seorang guru di pedalaman hutan rimba. Dalam film ini memang masih melibatkan karakter anak-anak. Sayangnya lagi, film ini juga tidak melegenda atau sukses besar di pasaran. Namun sejak saat itu, saya masih tetap merindukan film bertema atau yang dipersembahkan untuk anak-anak produksi dari Miles Films. Kapan bikin film anak-anak lagi ya?

***

Pertanyaan itu terjawaab di tahun ini. Digadang-gadang sebagai produksi film anak-anak terbesar di tahun 2018, film Kulari Ke Pantai mulai tayang 28 Juni 2018 di bioskop-bioskop tanah air. Film yang konon dipersiapkan hamper 10 tahun lamanya.

Tak berjudul

Ke Gala Premier Film “Kulari Ke Pantai” bersama keponakan.

Saya yang mendapat kesempatan menghadiri Gala Premier film Kulari Ke Pantai 23 Juni 2018, punya sedikit alasan yang harus dibagikan tentang mengapa kita harus menonton film ini. Apa saja itu? Silakan disimak:

1. Rindu Film Anak-Anak
Mudah dihitung berapa jumlah film untuk anak-anak yang diproduksi di Indonesia. Sedikitnya jumlah produksi film untuk anak-anak mungkin memengaruhi mengapa banyak anak Indonesia yang tidak mendapatkan tayangan layak sesuai usianya. Apalagi dengan kehadiran film pahlawan super yang sebenarnya lebih cocok untuk usia 13 tahun ke atas dan perlu bimbingan orangtua.

Film Kulari Ke Pantai adalah oase bagi orangtua untuk memberikan tayangan yang layak, dan untuk anak agar mendapatkan film sesuai dengan usianya dengan cerita yang sangat menghibur. Drama komedi yang dirindukan oleh semua anggota keluarga.

2. Memanjakan Mata
Saya selalu mengapreasi apa yang disajikan dalam film-film Miles tentang seringnya mengangkat unsur-unsur lokal. Belum hilang ingatan mengenai Belitung yang menjadi terkenal setelah Laskar Pelangi, lalu diajak melihat savana di Sumba lewat Pendekar Tongkat Emas (2014), hingga mengenal Bugis pada Athirah (2016).

Sempat dibuat kecewa di Pendekar Tongkat Emas karena terlalu banyak mengambil gambar pemandangan, sampai-sampai sedikit merasa bosan, namun terbayar puas di Kulari Ke Pantai. Porsi adegan pemandangannya sangat pas, tapi tetap memanjakan mata. Mas Riri Riza “membawa” penonton ikut melihat pemandangan indah dan berpetualang ke Cirebon, Temanggung, Pacitan, Banyuwangi, Bromo, Blitar, dan Rote. Saya jadi berpikir ingin merasakan perjalanan yang sama yang dilakukan oleh Mama Uci, Sam, dan Happy ini sepanjang menonton film ini. Ya…mungkin sebentar lagi akan ada peningkatan jumlah reservasi hotel dan restoran serta kunjungan wisatawan di lokasi wisata baru yang menjadi tempat syuting film ini.

Tak berjudul

3. Cerita Yang Hangat
Sebagai pendatang baru, Maisha Kanna (Sam) dan Lil’li Latisha (Happy) sukses membawakan karakter mereka masing-masing dengan cerita yang hangat. Bagaimana mereka yang dulu adalah saudara sepupu yang akrab, kemudian menjadi saling menjauh, hingga akhirnya menyadari bahwa mereka adalah keluarga yang tidak bisa dipisahkan akan membawa arti penting bagi penonton, khususnya anak-anak. Mengajarkan arti tentang saling menjaga, peduli, rasa saling percaya, hingga kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan saling memberi maaf.

Ada kerenggangngan antara ibunya Sam, Mama Uci, yang diperankan oleh Marsha Timothy, dengan ayahnya Happy, yang diperankan oleh Lukman Sardi. Menjadikan cerita Kulari Ke Pantai tidak hanya menyuguhkan permasalahan anak-anak saja, melainkan drama keluarga yang sedikit rumit.

***

Di luar alasan yang sudah saya sebutkan, ada satu lagi hal paling menarik. Mungkin ini adalah film pertama yang disiapkan sebagai proyek Miles Cinematic Universe(?). Penasaran itu mengenai apa? Nah, saksikan langsung film Kulari Ke Pantai pada 28 Juni 2018 untuk menemukan jawabannya.

Ajak seluruh keluarga dan siap-siap “kita lari ke pantai” bersama!

Tak berjudul

Sutradara: Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Pemain: Marsha Timothy, Maisha Kanna, Lil’li Latisha

Foto: Miles Films

2 thoughts on “Mengapa Kita Harus Lari Ke Pantai?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *