Kursi Penonton Asian Games 2018 Kosong?

Dalam gegap gempita dan animo tinggi masyarakat terhadap perhelatan olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, saya pun tak mau ketinggalan untuk ikut larut merayakannya. Namun hajatan olahraga yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali itu mendadak diterpa sedikit kendala, yakni permasalahan tiket pertandingan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tiba-tiba saya jadi ingin dan merasa perlu menuliskannya di blog. Menyampaikan pengalaman yang saya alami belakangan hari ini perihal tiket pertandingan pada Asian Games 2018.

Tak berjudul
Jujur saja, saya sangat menantikan perhelatan sebesar Asian Games jauh-jauh hari. Sejak SEA Games 2011 di Jakarta dan Palembang, rasanya kehausan akan pesta olahraga internasional di Indonesia makin menjadi-jadi. Begitu tahu negara lain mengundurkan diri sebagai tuan rumah dan Indonesia yang dipilih menggantikannya, rasanya senang sekali mendengar berita itu. Saya berpikir: saya harus menonton pertandingan secara langsung. Ini momen langka!

Pesta pembukaan pun digelar meriah pada 18 Agustus 2018. Indonesia menjadi sorotan dunia karena berhasil menampilkan suguhan indah yang begitu manis. Hingga kemudian, terjadi hal yang tidak saya duga keesokan harinya. Saya dan beberapa orang lainnya kesulitan mendapatkan tiket pertandingan. Beberapa jalur sudah saya coba, mulai dari pembelian online hingga langsung di venue. Cabang olahraga yang saya ingin saksikan semua sudah sold out. Tapi dari berbagai cerita dikabarkan di dalam venue masih terlihat kosong penonton. Kenapa bisa terjadi?

Berbagai isu dan kabar burung pun berhembus perihal sulitnya mendapatkan tiket. Ada yang mengatakan hal tersebut akal-akalan oknum, ada juga yang berpendapat karena vendor tiket yang kurang siap, bahkan yang sampai ke telinga saya adalah soal calo yang memborong dan berniat menjual kembali dengan harga yang fantastis. Semua orang tersulut dan ingin marah termasuk saya. Bagaimana bisa ketika kita ingin menyukseskan ajang sebesar ini tapi malah kesulitan mendapat tiket? Hingga sampai akhirnya saya membaca tweet berikut:

Saya melewatkan fakta serupa terjadi di beberapa perhelatan olahraga besar lainnya. Kursi penonton yang kosong menjadi tantangan satiap panitia. Saya baca utasan tweet tersebut dan browsing berita lama, ada berbagai sebab. Ini yang bisa saya rangkum:

1. Penonton Yang Mengurungkan Niat
Mereka telah jauh-jauh hari membeli beberapa tiket pertandingan, tetapi mengubah niat mereka untuk datang menonton di saat-saat akhir. Ada yang karena cuaca (yang mereka ingin hindari sehingga mencari laga lain di venue dalam ruangan yang lebih hangat), keperluan mendadak, hingga rasa kecewa karena atlet yang didukung kalah dalam laga sebelumnya. Tidak sedikit juga alasan kebiasaan. Di Brazil banyak yang tidak terbiasa menonton pertandingan yang durasinya lama seperti tenis. Sehingga cabang ini juga terlihat kosong. (sumber dari sini dan sini)
2. Kursi Sponsor, Wartawan dan Undangan
Saya tahu panitia menyiapkan beberapa tempat untuk undangan, wartawan dan rekanan sponsornya. Tapi yang saya lewatkan adalah ternyata banyak sponsor dan undangan yang kurang memanfaatkan jatah ini dengan baik. Misalnya tiket yang dibagikan untuk kuis oleh sponsor, terkadang pemenang justru tidak hadir. Begitu juga para undangan yang tidak datang secara mendadak.
Dikutip dari berita di sini, juru bicara INASGOC, Danny Buldansyah, mengatakan bahwa selama ini mereka mengalokasikan sebanyak 20% dari total tiket untuk Pengurus Besar (PB) atau Pengurus Pusat (PP) organisasi cabang olahraga di Indonesia. Dengan keputusan yang baru, panitia kini menguranginya menjadi hanya 10% saja. Itu berarti masih ada 90% untuk dijual umum.


3. Alasan Keamanan
Mungkin bagi awam seperti saya tidak banyak tahu akan hal ini. Belakangan ini saya diberitahu teman bahwa salah satu alasan kursi kosong merupakan bagian dari pengamanan. Jumlahnya tidak banyak, namun cukup untuk memberi ruang gerak petugas melakukan pengamanan saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Belakangan saya baca di media tentang evaluasi penjualan tiket. Mulai dari perpindahan penjualan online ke jaringan yang lebih besar dan stabil, hingga ditangkapnya calo-calo tiket di GBK.

Saya rasa itu langkah yang patut diapresiasi. Perbaikan memang harus terus dilakukan agar kesan sukses dari Asian Games 2018 benar-benar terwujud. Tak lupa yang paling penting adalah dukungan penuh kita terhadap atlet-atlet yang masih berjuang hingga 2 September nanti. Semoga Indonesia terus menambah raihan medali hingga Asain Games 2018 ini usai.